Tak Pedulikan Prokes, Fans Euro 2020 Kena Teguran Keras WHO

Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth
02 Juli 2021 14:57 WIB Hadijah Alaydrus Piala Eropa Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan baru kepada penggemar EURO 2020 yang bepergian selama pandemi Covid-19.

WHO telah mengeluarkan peringatan baru kepada penggemar sepak bola yang bepergian menjelang perempat final EURO 2020.

Ribuan pendukung diizinkan untuk menonton empat pertandingan sistem gugur yang berlangsung pada hari Jumat dan Sabtu depan, dengan St. Petersburg, Munich, Baku, dan Roma sebagai kota tuan rumah.

"Saya di sini bukan untuk menuangkan air dingin pada penggemar EURO 2020 atau liburan siapa pun," kata Hans Kluge, Direktur Regional WHO Eropa, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Euronews.

"Tetapi sebelum kita melihat para pemain kita, dan sebelum kita semua berkemas dan pergi untuk liburan yang layak di dekat rumah atau jauh, adalah keharusan saya untuk memberikan [beberapa] pesan."

"Jika Anda memutuskan untuk bepergian dan berkumpul, cek risiko dan melakukannya dengan aman, menjaga semua refleks penyelamatan jiwa dan perlindungan diri terutama di dalam ruangan dan di keramaian."

Menteri Dalam Negeri Jerman telah mengkritik UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa, karena mengizinkan 40.000 penggemar menonton pertandingan Kejuaraan Eropa Inggris melawan Jerman di Stadion Wembley.

Ketika ditanya tentang keputusan itu, Horst Seehofer mengatakan posisi UEFA "benar-benar tidak bertanggung jawab".

"Saya memiliki kecurigaan bahwa ini tentang perdagangan lagi, dan perdagangan tidak boleh melebihi perlindungan penduduk terhadap infeksi," tambahnya.

WHO mengatakan jumlah kasus Covid-19 di Eropa telah meningkat 10% pada minggu lalu, sebagian besar karena peningkatan perjalanan dan pertemuan massal, serta pelonggaran pembatasan.

Ini adalah Kkkhawatiran signifikan bagi negara-negara di Eropa mengingat penyebaran varian delta Covid-19 yang ditemukan pertama India. Kluge telah memperingatkan bahwa benua itu akan menjadi "delta dominan" pada Agustus, melihat tingkat vaksinasi masih terlalu lambat.

"Pada Agustus, wilayah itu tidak akan divaksinasi sepenuhnya," katanya dalam sebuah pernyataan.

"63 persen orang masih menunggu suntikan pertama mereka, dan pada bulan Agustus Wilayah Eropa WHO sebagian besar masih akan bebas pembatasan, dengan meningkatnya perjalanan dan pertemuan."

Sumber : Bisnis Indonesia