Prediksi Final Euro 2020: Inggris Warisi Semangat 1966

Timnas Inggris - Instagram @england
09 Juli 2021 03:27 WIB Chrisna Chaniscara Piala Eropa Share :

Harianjogja.com, LONDON—Jargon Football is Coming Home (sepak bola kembali ke rumah) benar-benar kian dekat menjadi kenyataan bagi Timnas Inggris. Declan Rice dkk. sukses menjejakkan kaki ke final Euro 2020 usai membungkam Denmark dengan skor 2-1 melalui perpanjangan waktu di Wembley, Kamis (8/7/2021) dini hari WIB. Gelar Euro perdana tampak di depan mata mengingat mereka akan menghadapi Italia pada final di markas sendiri, Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB.

Final kali ini menjadi capaian terbaik Inggris dalam keikutsertaannya di ajang Euro. Sebelumnya Tiga Singa hanya mentok di semifinal yakni saat Euro 1996 Inggris. Kala itu Alan Shearer dkk. gagal ke partai puncak usai ditumbangkan Jerman lewat adu penalti 6-5 (1-1) di Wembley. Pelatih Inggris saat ini, Gareth Southgate, menjadi satu-satunya algojo Inggris yang gagal menuntaskan tugasnya. Ajang Euro 1996 di markas sendiri berakhir duka bagi Tiga Singa. Jargon Football is Coming Home yang mulai dipopulerkan kala itu pun menjadi sebatas chant dan tema turnamen, tanpa mewujud nyata menjadi gelar.

Belajar dari pengalaman, Southgate meminta anak asuhnya menjaga fokus untuk final. Ya, lawan yang dihadapi Inggris kali ini adalah Italia, tim dengan tren peningkatan performa terbaik tiga tahun terakhir. Gli Azzurri masih tak terkalahkan dalam 33 laga beruntun usai dipegang Roberto Mancini. “Kami menikmati fakta bahwa kami berada di final, tapi ada satu rintangan besar yang harus ditaklukkan. Italia adalah tim sangat bagus,” ujar Southgate dilansir uefa.com, Kamis.

Alih-alih meratapi kegagalan 1996, Inggris wajib mewarisi api kejayaan saat meraih gelar Piala Dunia 1966. Kala itu Geoff Hurst dkk. tampil heroik dengan membekuk Jerman Barat 4-2 di babak perpanjangan waktu di Wembley. Euro 2020 sendiri adalah final pertama Inggris usai tampil di partai puncak Piala Dunia 1996.     

Kemenangan atas Denmark di semifinal menunjukkan Inggris memiliki karakter pantang menyerah. Meski tampil dominan dengan 10 peluang on target berbanding tiga, Mason Mount dkk. butuh penalti di babak tambahan untuk mengunci kemenangan. Inggris tertinggal lebih dulu usai free kick Mikkel Damsgaard meluncur deras ke gawang Jordan Pickford di menit ke-30. Namun sembilan menit kemudian serangan gencar Inggris berbuah gol bunuh diri bek lawan, Simon Kjaer. Di babak tambahan, eksekusi penalti Harry Kane sempat ditepis tapi bola rebound bisa disambarnya ke dalam gawang. “Laga-laga seperti ini memang soal karakter, soal berusaha keras, soal keyakinan. Kami punya itu di skuat ini,” ujar Kane.

Sementara itu kekalahan dari Inggris membuat Denmark gagal mengulang kisah dongeng saat menjuarai Euro 1992. Sempat kalah di dua laga awal fase grup, Tim Dinamit meledak hingga melaju ke babak empat besar. Pelatih Dennmark, Kasper Hjulmand, mengaku bangga dengan perjuangan anak asuhnya sepanjang turnamen. “Ada kekuatan yang luar biasa dari orang-orang ini. Mereka bermain sepak bola dengan cara yang fantastis,” ungkap Hjulmand.

Meski demikian, dia tak menampik ada kekecewaan lantaran harus tersingkir karena penalti kontroversial. Joakim Maehle dianggap melakukan kontak minim dengan Raheem Sterling saat wasit Danny Makkelie menunjuk titik putih. “Kami sangat kecewa karena kami begitu dekat ke final. Namun saya berpikir hal itu tak akan lama sampai kami dapat menempatkan hasil ini dalam perspektif lain. Kami yakin bisa melakukannya lagi,” ucap Hjulmand.

Sumber : JIBI/Solopos